RAW vs JPEG

Ada analogi yang simple,
Ibarat kita membuat kue.
1. Raw file: adondan sudah disiapkan semua, tetapi belum dipanggang/ keluar dari oven. Allias belum bisa dimakan.
2. Jpeg/jpg file: kue sudah keluar dari oven dan siap untuk dihidangkan. Mau dimakan langsung juga boleh, atau perlu garnish atau semisal pastri perlu ada sambal atau saos tomat sedikit juga boleh.

Pada kamera digital:
1. Raw data: file yang dihasilkan tanpa in camera prosessing/ masih mentah. Jadi harus ada proses lanjutan untuk mengubah data tersebut agar bisa digunakan untuk piranti lainnya. Fleksibilitas pengaturan parameternya lebih luas dibanding dengan jpeg/jpg.  Kita tidak bisa mencetak dengan membawa data raw ini ke lab tanpa proses lebih lanjut. Bahkan untuk membukanya diperlukan cameraraw plug in/ converter.

Kemungkinan hasil akhir bisa lebih baik dan bahkan bisa lebih buruk, tergantung keahlian settingnya. Tetapi data raw ini dapat disimpan untun memungkinkan proses mendatang. Raw file ini berguna untuk pemotretan dengan melakukan work-flow dan batch processing; dimana terdapat pemotretan sejenis, misalkan pemotretan di studio. Atau kita mau mendapatkan hasil yang lebih maksimal dan untuk pembesaran. Raw juga digunakan untuk pemotretan dengan kontras tinggi agar bisa di adjust kemudian. Kita masih dapat men set warna, ketajaman, vignetting, color-fringing pada raw prosesor.

Jadi faktor manusia dan sofware post-processing yang lebih berperan. Kapasitas yang dibutuhkan untuk menyimpan data raw dengan sendirinya lebih besar dari Jpeg file.

2. Dengan jpg/jpeg file: kita bisa langsung menggunakan data tersebut, misalnya untuk langsung dicetak.

Data yang dihasilkan merupakan data yang sudah diproses dikamera setelah kita mengklik tombol shutter. Parameter yang sudah diset biasanya default sharpness, brightness, saturation, hue, contrast, white balance. Parameter itu bisa kita set sesuai dengan keinginan kita untuk mencapai hasil akhir output kamera.

Fleksibilitas after process sangat kurang dibandingkan dengan raw, apalagi file data telah mencapai clipping. Juga pada file yang under/over exposure.
Jadi kalau kita menggunakan posisi JPEG/JPG harus menset segalanya teerutama untuk white balance dan exposurenya.

Kalau dilihat di LCD monitor dan RGB histogram pada kamea sudah cukup baik, memakai JPG tidak masalah.

Kapasitas yang dibutuhkan lebih kompak/kecil. Tergantung lagi skala kompresinya. Makin tinggi tingkat kompresinya maka besaran file makin kecil.

Perlu diingat data JPG/JPEG dapat mengalami degradasi kwalitas akibat pengulangan pemakaian; misalnya: file dibuka>disave>dibuka>disave>…dst.
Hasil tampilan JPG/JPEG biasanya lebih bagus dari pada Raw.

Kembali lagi tergantung dari jenis pemotretan dan hasil akhir yang diinginkan.
Kalau mau aman yah Raw+ jpg jadi dapat dua duanya, tetapi komsumsi penyimpanan membengkak.

NB.
Pada DSLR seri baru dan MF digital back telah ada compressed raw dimana bagasi penyimpanan bisa di reduce sampai 25%.
hasilnya engga jauh beda. Tetapi kapasitas penyimanannya jauh berbeda, dan harus diproses dengan raw converter bawaannya.
belum bisa dibuka disembarang raw converter.

*Disadur dari tulisan Mukri Sulaiman (fotografer)