Visual Designer Nongkrong Bareng

Minggu, 13 Februari 2011 sejumlah penggiat desain visual Jakarta berkumpul di Langsat Corner, Jl KH. Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan. Mereka terdiri dari insan-insan kreatif dari beberapa bidang. Desainer penerbitan, packaging, scluptur, kartunis, karikaturis, desainer web, multimedia, hingga tattoo & bodypainting. Keseharian merekapun beragam, ada yang menjalani profesi sebagai konsultan, freelancer, profesional di beberapa institusi industri kreatif, dan bahkan sebagai dosen terbang untuk sejumlah perguruan tinggi.

Walaupun ada beberapa yang sudah saling mengenal, event yang dibuat dengan format informal ini mempertemukan para visual designer yang sebelumnya tidak saling mengetahui. Dengan koordinasi online mereka akhirnya bisa bersilaturahmi, saling mengenal, bertukar ilmu, dan tentunya bertukar segala informasi seputar dunia kreatif, seni rupa, serta desain grafis.

Dalam pertemuan yang lebih terlihat sebagai acara “Nongkrong Bareng”, juga terjadi diskusi serius seputar beberapa permasalahan yang mengemuka dan sering dihadapi para praktisi visual design. Diantaranya adalah permasalahan seputar client service, project management, capacity upgrading dan edukasi tentang proses kreatif.

Beberapa pendapatpun bermunculan. Misalnya tentang minimnya penghargaan terhadap proses kreatif. Masih menjadi teka-teki yang sudah berjalan lama, apakah pengguna jasa kreatif baik disain maupun pekerjaan secara keseluruhan, sudah mengetahui atau menyadari bahwa setiap pekerjaan perlu proses yang tidak sederhana. Proses yang terjadi bukanlah sekedar sulap yang dengan “simsalabim” semua bisa berubah. Ada hal-hal yang tak bisa diabaikan dalam proses kreatif itu. Dari menterjemahkan ide menjadi konsep, memikirkan aplikasi yang sesuai dengan ide awal, mempersiapkan materi-materi yang dibutuhkan dalam eksekusi, hingga penggunaan software komputer yang sangat tergantung dari kapasitas yang dimiliki komputer itu sendiri.

Dari persoalan itu, lalu juga terkait dengan bagaimana sebuah pekerjaan ataupun proyek, bisa dikerjakan dengan jadwal yang rasional, logis, dan dapat dipatuhi semua pihak-pihak terkait. Sempat diberikan contoh tentang sistem kerja majalah, yang akrab dengan deadline periodik. Pentaatan waktu penyetoran materi lengkap sangat berpengaruh terhadap waktu terbit yang direncanakan. Dan masalah klise yang sering dihadapi oleh beberapa media ini memang ujung-ujungnya akan berefek pada “kerja ekstra” pada tahap eksekusi, disain dan layout. Dan tak dapat dipungkiri defenisi materi lengkap inipun kerap menimbulkan permasalahan pada bidang jobdesk. Siapa yang menyiapkan foto hasil riset di internet? Siapa yang harus mengetik naskah berdasarkan materi hardcopy? dsb.

Koreksi terhadap tuntutan kapasitas para visual desainer juga mengemuka. Bahwa tuntutan atas penghargaan proses kreatif selayaknya juga dibarengi dengan peningkatan kapasitas dan kualitas individu-individu penggiat visual desainer. Kesadaran membentuk diri sebagai profesional yang bertanggung jawab harus ditunjukkan. Hasil akhir, kinerja, etos kerja, kemampuan menterjemahkan ide, kemampuan bahasa, kemampuan presentasi atau juga kemampuan berkomunikasi, hanya beberapa hal yang harus jadi perhatian.

Banyak lagi persoalan-persoalan yang dibahas yang akhirnya membuat diskusi berkembang ke beberpa aspek lain yang tidak kalah penting. Yaitu bagaimana memberikan edukasi kepada publik tentang proses kreatif, pembuatan standar alur kerja yang bisa diaplikasikan untuk berbagai bidang dalam industri kreatif, termasuk pembahasan agar ada lembaga perlindungan bagi pekerja kreatif, juga tentang tanggung jawab individu atas segala hasil kerasnya sendiri agar tidak menjadi sia-sia hanya karena perilaku menyimpang yang tidak perlu seperti penggunaan narkoba.

Memang, hampir semua masih sebatas ide. Tapi harapan selalu ada. Ide-ide yang telah terlontar tak ada kata tak mungkin untuk direalisasi. Tentunya semua akan lebih mudah jika dukungan dari segenap insan dan unsur-unsur di industri kreatif juga terhimpun. Dan langkah awal di acara “Nongkrong Bareng” ini diharapkan dapat menghasilkan langkah-langkah nyata di waktu yang akan datang, di pertemuan-pertemuan berikutnya. Waktu yang akan bicara!

SUMBER