Visual Designer Nongkrong Bareng vol. 4

Menutup akhir tahun, acara “Visual Designer Nongkrong Bareng” kembali digelar pada Minggu, 18 Desember 2011. Masih tetap dengan style yang sama. Home to home event. Kali ini XODBOX Grpahic studio menjadi tuan rumahnya. Studio yang digawangi antara lain oleh Sapta “Bozo”, Bambang Suwito, Fajar, dan David ini,  berdomisili di kawasan Ciganjur yang penuh pepohonan. Acara digelar agak berbeda dari biasanya. Selain menu standard, workshop dan diskusi, kali ini acara “nongkrong bareng” juga menyajikan pameran mini dengan tema “Visual bebas bicara, bebas bicara visual”.  Pameran mini yang diisi hasil-hasil karya praktisi visual ini ditujukan untuk saling berbagi ilmu dan lebih mendorong semangat berkreatifitas dari para praktisi tersebut, dan tentunya agar saling mengetahui potensi yang ada hingga dapat berkembang biak menjadi jejaring kreatif yang solid. Terpampang 45 frame hasil karya visual dari 15 penggiat visual. Dari essai fotografi, packaging design, mobile ad, corporate design, print ad, digital imaging, hingga komik, animation project dan karikatur.

Selain diisi dengan pameran mini, acara kali ini juga mengikutsertakan praktisi dunia kreatif yang makin beragam. Graphic designer, layouter, kartunis, video editor, fotografer, web programmer, hingga print production specialist, dan dari praktisi event organizer. Seperti biasa, sesi pertama dilangsungkan workshop yang kali ini membahas komparasi image colour editing tools. Dan pada kesempatan ini Ferry “Pepenk” Ardianto, yang berprofesi sebagai konsultan desain dan freelancer, yang menyampaikannya.

Pembahasan difokuskan pada studi banding umum 3 tools untuk editing warna foto. Yaitu Capture One, Adobe Lightroom, dan adobe Photoshop default. Masing-masing tools dikupas secara permukaan. Baik kelebihan maupun kekurangan masing-masing. Diberikan juga  contoh foto yang hanya bersumber dari standard spot shot yang ternyata dapat di-edit dengan tidak memakan waktu lama. Hal ini diberikan contoh mengingat banyaknya tampilan foto bukan dari fotografer profesional atau spesialis yang terbilang tidak ideal dalam pewarnaan. Baik pada produk printing maupun web.

Sesi ke 2 dimulai sekitar setelah maghrib dan setelah jamuan makan malam. Dalam sesi ini dilakukan diskusi yang menyambung dari workshop di sesi 1. Yaitu “pertarungan” idealisme visual antara hobbiest fotografi, fotgrafer professional, creative designer, & creative management. Berdasar dari ukuran taste yang hingga kini memang terlahir tak mempunyai standard pasti, banyak terjadi  perbedaan-perbedaan dalam memandang sebuah obyek visual. Masing-masing memang mempunyai cara pandang beda. Dan kecenderungan dominasi asumsi memang sangat kuat. Di satu sisi eksekutor foto memiliki keinginan untuk menampilakan karya seperti yang ada dalam pemikirannya. Kemudian para ekskutor desain juga mempunyai cara pandang berdasarkan hasil akhir produksi, hingga kadang kala hasil kesepakatan justru bisa menjadi mentah di mata creative management. Dan lagi-lagi semua masih dalam kategori asumsi, hingga akhirnya yang terjadi adalah pertarungan asumsi dalam mengapresiasi karya visual.

Lalu diskusipun merambah bidang lain yang juga masih berkorelasi kuat dengan tema. Sebuah kasus yang diungkap oleh salah seorang peserta memaparkan bagaimana dalam proses penentuan jenis huruf (font) pada sebuah karya, dapat menjadi perdebatan panjang. Pemilihan font berdasarkan kapasitas seorang graphic designer seringkali tak mendapat “restu” dari creative management. Bahkan saat diadakan polling, hasil yang berpihak pada si desainer, tak kunjung juga mendapat persetujuan. Lalu apa yang harus dilakukan? Beberapa pandangan diungkapkan, bahwa dengan menggunakan studi literatur, riset, dan bahkan dengan menggunakan data empiris, hal-hal menyangkut pola pandang visual dapat menjadi kuat ketimbang hanya dengan menggunakan argumen berdasarkan asumsi. Mungkin tidak usah harus mencapai validitas dengan menggunakan riset mikro, cukup dalam tingkatan makro, hal-hal tersebut sudah dapat menjadi karya yang dapat dipertanggungjawabkan.

Akhirnya pada sesi ke 3 diisi dengan acara diskusi bebas. Dari sini para penggiat kreatif berbincang seputar hal-hal yang dapat dilakukan oleh hasil karya visual dalam rangka sumbangsihnya kepada masyarakat luas. Pembicaraan juga membahas bagaimana sebuah kegiatan seni visual kemasyarakatan bisa diusahakan mendapat perhatian dari masyarakat internasional, terlepas dari kemungkinan tidak adanya kepedulian yang sama dari dalam negeri. Tercetus wacana untuk melakukan edukasi berbagai bidang kemasyarakatan melalui seni visual yang dilakukan dengan metode “dari desa ke desa”. Metode yang diterjemahkan sementara sebagai bentuk gerliya visual ini memposisikan masayarakat dalam lingkup terkecil sebagai sasaran edukasi. Banyak hal yang bisa diperbuat untuk edukasi ini. Bidang kesehatan, narkoba, pendidikan, atau juga tentang kesadaran berdisiplin dalam berbagai bidang. Draft kasarnya, alangkah idealnya jika pameran bertema kehidupan masyarakat justru disajikan kepada masayarakat itu sendiri, jadi tidak hanya menjadikan mereka obyek visual yang hasilnya hanya digunakan sebagai hiburan mata kalangan yang sekedar bisa berdecak kagum atas hasil karya tersebut.

Komunitas visual designer ini memang bukan sebuah organisasi, yang otomatis juga tak memiliki strktur organisasi. Tapi, hal ini diyakini tidak akan menghalangi untuk dapat memberi atau bersumbangsih pada tatanan hidup sosial kemasyarakatan yang ideal. Yang jelas segala yang telah dilakukan dengan berpedoman pada kegiatan nirlaba selama ini, patut diberi apresiasi karena semua dilakukan dengan ikhlas, sukarela, dan semangat berbagi yang tinggi.

Mengutip dari teks yang tercantum dalam salah satu karya fotografi hasil jeperetan Anggri Sugiyanto, yang juga terpampang pada pameran mini di acara ini, “Kegembiraan ini jujur, walau tak di atas karpet beludru.” (.)

Berikut hasil karya visual yang dipampang pada “Pameran Mini” bertema “Visual bebas bicara, bebas bicara visual”

SUMBER