Visual Designer Nongkrong Bareng vol. 2

Untuk kedua kalinya, beberapa penggiat disain visual Jakarta berkumpul untuk “Nongkrong Bareng”. Tepatnya pada Minggu, 26 Juni 2011 bertempat di Yogasdesign Studio yang berlokasi di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Tak banyak beda dengan acara kumpul-kumpul yang sebelumnya, hadir di sini beberapa visual desainer dengan berbagai spesialisasi bidang. Media designer, web designer & programmer, packaging designer, hingga corporate designer.

Komunitas visual designer ini memang terkesan agak “liar”. Karena tak mempunyai wadah tetap atau organisasi (termasuk strukturnya), tak ada keanggotaan ataupun jumlah anggota tetap, dan tak ada waktu atau jadwal berkumpul yang tetap. Komunitas ini lebih terlihat sebagai gerak spontanitas berdasarkan kesamaan profesi sebagai visual designer. Terlepas dari pro-kontra, antusiasme, sinisme, bahkan cibiran dari kalangan sesama, memang komunitas ini tidak ingin membuktikan apa-apa maupun menunjukkan apa-apa, selain ingin memperkuat network yang di dalamnya mengandung kental semangat untuk saling berbagi, baik info, ilmu, maupun wawasan.

Pada kesempatan kali ini, selain beramah-tamah, acara “Nongkrong Bareng” menyajikan sesi workshop yang terdiri dari dua sesi. Sesi pertama bertema “Tinjauan Umum Web Development” dan sesi ke dua bertema “Penggunaan Trik Polar Panoraman pada Photoshop”.

Pada sesi pertama disampaikan oleh Sapta “Bozo” dan Bambang Suwito yang berprofesi sebagai web designer dan web programmer. Diuraikan pada sesi ini bagaimana proses awal pembuatan website dengan elemen-elemen penting yang terkandung di dalamnya, hingga tahap eksekusi programming sampai “ready to online”. Juga sempat dibahas mengenai perkembangan dunia printing yang sudah banyak dikombinasikan dengan dunia online, seperti bagaimana proses mengaplikasikan hasil printing ke media iPad maupun tablet PC lain yang biasa disebut dengan istilah e-paper. Tak ketinggalan juga pembahasan mengenai beberapa web browser ternama yang semua mempunyai kelebihan dan kelemahan.

Setelah sesi pertama selesai ramah temah dilanjutkan dengan sharing antar personal bagaimana memasarkan jasa kreatif agar bisa tercapai penghargaan yang rasional di mata publik. Dalam sesi sharing ini mencuat juga pembicaraan tentang pergeseran perilaku marketing jasa kreatif yang kini lebih terarah kepada perilaku public relation (PR) ketimbang perilaku sales. Walaupun disadari bahwa masing-masing mempunya sisi plus dan minus, tetapi dari perilaku pemasaran bergaya PR (baca “Pi-Ar”) hasilnya mempunyai daya tahan yang lebih baik dari cara-cara standar yang biasa dilakukan dengan perilaku pemasaran sales. Memang hal ini bukanlah sebuah kesimpulan, tapi dengan pembeberan beberapa contoh, tampaknya tren pemasaarn bergaya PR akan menjadi solusi di tengah kondisi umum menurunnya kepercayaan publik terhadap berbagai ketersediaan produk maupun jasa, khususnya di bidang industri kreatif.

Workshop sesi kedua disampaikan oleh Pepenk yang merupakan freelancer dan media design consultant. Kali ini ia menyampaikan tentang trik “Polar Panorama” yang menggunakan software Photoshop. Dengan beberapa contoh hasil eksekusi, diuraikan pula langkah-langkah dan hal-hal yang harus menjadi perhatian utama pada trik ini. Memang ada beberapa tools dasar di Photoshop yang sudah harus dikuasai agar trik dapat berjalan sesuai rencana. Dari pathing, cropping, brushing, patching, hingga penguasaan default filter. Nah, justru disinilah juga diberi penekanan bahwa default filter pada Photshop sebenarnya sudah dapat “berbicara” banyak untuk melakukan olah foto maupun gambar, yang saat ini banyak disebut sebagai “digital imaging”. Pada kesempatan sesi kedua inipun juga dilakukan komparasi dengan kemampuan lensa pada kamera untuk membentuk wujud “Polar Panorama” tsb.

Jalannya acara ini ternyata keluar dari rencana awal. Yang sedianya akan diakhiri pada pukul enam sore, ternyata setelah berakhirnya sesi workshop kedua, sesi sharing berlangsung kembali. Pembahasan bermuara dari kenyataan bahwa edukasi terhadap publik tentang proses kreatif belum sepenuhnya disadari oleh pihak-pihak yang terlibat pada industri kreatif itu sendiri. Kendala eksekusi prima yang biasanya terbentur dengan deadline yang sempit, menjadi pembahasan menarik. Hingga sistim kerja pada industri kreatif pada setiap institusi maupun individu yang terlibat perlu dijadikan “pagar” agar hal-hal yang menjadi sandungan dalam keseluruhan proses bisa diminimalisir. Tampaknya masih banyak persoalan yang bisa dibahas dalam diskusi model non formal seperti acara “Nongkrong Bareng” ini, dan disepakati bahwa persoalan-persoalan itu akan dijadikan pekerjaan rumah yang ke depan memang harus dicarikan solusi.

Akhirnya waktu juga yang membatasi, dan pada pukul setengah sembilan malampun kumpul-kumpul atau nongkrong bareng atau apapun namanya disudahi dengan menyisakan senyum di masing-masing peserta. Belum ditentukan kapan acara berikutnya akan dilaksanakan, yang jelas semua sepakat untuk terus berkumpul dalam rasa ingin berbagai antar sesama. Semoga.

SUMBER